PERBEDAAN SISTEM EKONOMI ISLAM DAN SISTEM EKONOMI KAPITALIS

SISTEM EKONOMI KAPITALIS

Pengertian

Sistem ekonomi kapitalis adalah suatu sistem yang memberikan kebebasan yang besar bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan yang terbaik bagi kepentingan individual atas sumberdaya-sumberdaya ekonomi atau faktor-faktor produksi.

Kapitalisme ini hasil dari pemikiran Adam Smith, Smith adalah tokoh mazhab klasik di mana para ahli ekonomi dunia menilai bahwa pemikiran mazhab klasik merupakan dasar sistem ekonomi kapitalis.

Kelebihan system ekonomi kapitalis

1.        Setiap individu memiliki kebebasan dan mempuyai hak untuk memiliki kekayaan dan sumber daya produksi pribadi

2.        Inisiatif dan kreativitas masyarakat dalam kegiatan ekonomi dapat dikembangkan.

3.        Tindakannya selalu berdasarkan pada prinsip ekonomi sehingga efesiensi dan efektivitas tinggi.

4.        Karena setiap individu bebas melakukan kegiatannya maka akan ada persaingan antar produsen (perusahaan) untuk menghasilkan barang yang bermutu.

Kekurangan Sistem Ekonomi Kapitalis

1.        Pihak yang dari segi ekonominya kuat sering kali memeras pihak yang lemah.

2.        Kebebasan pasar menyebabkan persaingan untuk merebut pasar. Hal ini dapat menimbulkan mendorong terbentuknya monopoli, kolusi usaha dan konglomerasi sehingga mengancam pengusaha yang lemah.

3.        Mendorong kesenjangan antara golongan ekonomi kuat dengan ekonomi yang lemah semakin besar.

4.        Perekonomian mudah terguncang ketidakstabilan.

 

PERBEDAAN SISTEM EKONOMI KAPITALIS DENGAN SISTEM EKONOMI ISLAM

1.        Perbedaan Worldview.

Pandangan hidup kapitalis, mereka percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini. Sebagian yang lain mempercayai adanya yang menciptakan, tetapi menurut mereka, Tuhan tidak mempunyai intervensi. Tuhan adalah ibarat pembuat jam mekanik. Setelah jam itu diciptakan, maka ia akan bergerak dengan sendirinya. Maka, Tuhan pun beristirahat, tidak lagi mencampuri urusan dunia.

Berbeda halnya dengan ekonomi Islam. Dunia, dalam pandangan Islam bukanlah tujuan akhir. Ada kehidupan yang abadi setelah kematian. Oleh karenanya, Islam tidak hanya menghendaki keuntungan (kebahagiaan) di dunia saja, tetapi juga keuntungan akhirat.

 

2.        Pertimbangan Nilai atau Moral.

Kapitalisme menegasikan pertimbangan nilai-nilai atau moral yang digaungkan oleh agama. Doktrin-doktrin agama seperti halal dan haram tidak menjadi sebuah nilai yang dipertimbangkan dalam kegiatan ekonomi. Kapitalisme juga tidak membatasi kebebasan manusia berdasarkan norma agama atau ketuhanan, Salah satu turunan yang paling mendasar dari perbedaan ini adalah sikap terhadap praktik riba.

Dalam ekonomi islam, pelarangan riba tercantum baik di Alquran maupun hadis Rasulullah SAW. Sebagai gantinya, lembaga keuangan syariah menggunakan skema bagi hasil (mudarabah dan musyarakah), jual beli (contohnya murabahah), dan juga sewa menyewa (ijarah), serta sejumlah akad syariah lainnya.

 

3.        Harmoni antara Kepentingan Individu dan Kepentingan Kolektif atau Sosial

Dalam paham kapitalisme, kepentingan individu adalah hal yang pokok untuk kesejahteraan manusia. Biarkan setiap orang mengejar kepentingannya masing-masing. Kepentingan sosial dapat terwujud dengan sendirinya ketika semua orang mengejar kepentingannya.

Di dalam ekonomi Islam, kepentingan sosial lebih diutamakan daripada kepentingan individu. Tidak ada satu pun individu yang dibiarkan menjadi korban ketamakan manusia. Terkait masalah ketenagakerjaan, Islam mendorong penghapusan perbudakan. upah pekerja harus dibayarkan secepatnya.

 

4.        Permasalahan Ekonomi.

Di dalam sistem kapitalisme, permasalahan ekonomi yang umum dipahami adalah terbatasnya sumber daya untuk memenuhi keinginan manusia yang tidak terbatas. yang dijadikan sebagai pertimbangan utama dalam pemenuhan keinginan tersebut adalah pertimbangan materi, yakni anggaran. Dari berbagai alternatif pilihan, maka keputusan didasarkan pada pilihan yang dapat memenuhi kepuasan tertinggi dengan anggaran yang paling efisien.

Di dalam ekonomi Islam, keinginan manusia dibatasi pada pemenuhan kebutuhan. Dua moral utama Islam dalam hal ini adalah dilarangnya sikap berlebih-lebihan (israf) dan sikap menyianyiakan (tabdzir). Seseorang yang sudah mencukupi kebutuhan pribadinya dituntut untuk juga memperhatikan kebutuhan orang lain/masyarakat melalui zakat dan sedekah.

 

5.        Kepemilikan Sumber Daya.

Kapitalisme sangat mendorong kepemilikan individu. Setiap individu dapat memiliki berbagai sumber daya yang ada dan juga berhak untuk mengelola sumber daya tersebut sesuai dengan kehendaknya dalam upaya pemenuhan kepentingan individunya.

Dalam ekonomi islam, Allah SWT adalah pemilik harta sesungguhnya. Allah SWT. sebagai pemilik harta sesungguhnya menegaskan bahwa di setiap harta yang Allah SWT. dititipkan kepada manusia terdapat hak orang lain. Maka dari itu, Islam mendorong setiap individu untuk menyisihkan sebagian hartannya untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

 

6.        Mekanisme Pasar

Tidak ada perbedaan antara kapitalisme dan ekonomi Islam dalam hal ini. Kelangkaan barang atau jumlah permintaan melebihi penawaran dapat mendorong kenaikan harga. Demikian halnya jika terjadi surplus atau jumlah penawaran yang melebih jumlah permintaan dapat mendorong turunnya harga.

Dalam pandangan kapitalisme, mekanisme persaingan pasar yang sempurna diharapkan dapat mengalokasikan sumber daya yang efisien, mendistribusikan barang dan jasa secara efisien kepada konsumen, serta memproduksi barang yang diinginkan oleh masyarakat.

Dalam pandangan islam, efisiensi menghendaki optimalisasi sumber daya tanpa adanya unsur berlebih-lebihan (israf) dan juga mubazir, ekonomi Islam menentang eksploitasi terhadap tenaga kerja, tidak semua barang atau jasa bisa diproduksi sesuai keinginan manusia, pertimbangan kehalalan dan juga kemanfaatan barang atau jasa tersebut.

 

7.        Intervensi Pemerintah

Kapitalisme sangat mengedepankan persaingan pasar tanpa adanya unsur intervensi pemerintah Laissez-faire, Laissez-passer adalah doktrin ekonomi kapitalis yang sering digaungkan. Sebuah doktrin yang menginginkan minimnya intervensi pemerintah dalam ekonomi. Tanpa intervensi pemerintah, diharapkan akan terdapat tangan tak terlihat (invisible hand) yang akan mewujudkan kepentingan sosial.

Ekonomi Islam memberikan peran pemerintah yang lebih aktif, tidak hanya aspek pemenuhan lapangan kerja dan inflasi, tetapi juga memperhatikan aspek redistribusi pendapatan. Ekonomi Islam menghendaki pemerintah untuk menjaga harmoni antara kepentingan individu dan kepentingan sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS TRANSAKSI YANG DILARANG DALAM ISLAM