SEJARAH PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM

Ekonomi islam berkembang seiring dengan perkembangan agama islam itu tersendiri. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa ekonomi islam mengambil prinsip-prinsipnya dari Alquran, Sunah, Hadis dan ajaran-ajaran Rasulullah. Pada perkembangannya, ekonomi islam melalui tiga fase, yaitu fase pertama yang merupakan periode pembentukan, fase kedua merupakan periode penerjemahan ke dalam Bahasa arab, dan fase ketiga yaitu periode penerjemahan kembali. 

  1. Fase pertama : Periode formasi atau pembentukan. Pada fase ini, perkembangan pemikiran ekonomi islam tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur luar. Pemikiran ekonomi islam pada fase ini hanya merujuk pada Alquran dan Hadis.
  2. Fase kedua : Periode penerjemahan. Pada fase ini, karya-karya atau ide-ide Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Ilmuan muslim mulai mengambil manfaat dari karya-karya yunani tersebut. Pada fase ini membentuk tiga kelompok ilmuwan. Kelompok pertama adalah ilmuwan muslim yang benar-benar menolak karya ide-ide yunani, kelompok kedua adalah ilmuwan muslim yang melakukan penyaringan dengan mengambil ide-ide yang sesuai dengan ajaran dan prinsip islam, kelompok ketiga yaitu ilmuwan muslim yang sangat dipengaruhi oleh ide-ide yunani.
  3. Fase ketiga : Masa penerjemahan ulang dan transmisi. Pada fase ini, Ilmu-ilmu islam diterjemahkan dari bahasa arab ke bahasa latin dan ke bahasa eropa lainnya.
Pada era sekarang, kita mengetahui sejarah perkembangan ekonomi islam dan ekonomi konvensional melalui literatur-literatur yang sudah banyak tersebar dan tinggal bagaimana kita mengambil kesimpulan serta fakta-fakta sebenarnya dari kisah yang diceritakan.

Joseph Schumpeter, ilmuwan barat yang terkenal dengan karya-karyanya terkait bidang ekonomi menuliskan sejarah perkembangan ekonomi tanpa menyinggung sedikitpun tentang peranan ilmuwan islam dalam menuangkan ide-ide yang ada. Lalu ada yang menyadari bahwa Schumpeter dalam tulisannya langsung meloncat jauh selama lebih dari 500 Tahun. Masa loncatan jauh tersebut disebut dengan istilah “Great Gap” atau yang artinya kekosongan besar.

Great gap maksudnya adalah masa kekosongan pemikiran ekonomi selama lebih dari 500 tahun. Sesudah peradaban Yunani, sempat tidak ditemukannya pemikiran ekonomi hingga pada masa St. Thomas Aquinas. Masa kegealapan ini dirasakan oleh seluruh eropa dan belahan bumi yang lainnya.

Sebab dari adanya kekosongan pemikiran pada saat itu adalah karena eropa sedang mengalami era kegelapan dimana agama menjadi penguasanya. Setiap ada pemikiran tentang ilmu pengetahuan yang melenceng atau berbeda dengan kitab agama yang ada pada saat itu langsng ditolak. Pada saat itu ada ajaran agama yang menganggap bahwa harga dan perdagangan merupakan perilaku dosa dan bentuk ekspresi ketamakan belaka. Lalu adanya opini bahwa seorang yang beriman harus menjual apa yang mereka miliki dan menjalnya kepada orang miskin, atau mereka harus meminjamkannya tanpa mengharapkan apa-apa (imbalan uang atau apapun). Sebab lain karena kurangnya minat dalam persoalan pokok ekonomi, seperti kondisi kemiskinan masyarakat, dengan hampir tidak ada industri dan perdagangan.

Ketika eropa sedang mengalami masa kegelaman, Negara arab justru sedang mengalami perkembangan pesat dalam bidang ekonomi. Ekonomi islam berkembang dengan pesat melalui pemikiran-pemikiran ilmuwan muslim.

Namun sayangnya kontribusi ilmuwan islam dalam perkembangan ekonomi tidak dipandang oleh ilmuwan eropa. Maka dari itu kebanyakan buku tentang ekonomi tidak menyebutkan peranan ilmuwan islam dalam sejarah perkembangan ekonomi. Para sejarawan menganggap peranan muslim hanyalah sebatas menerjemahkan dari bahasa Eropa ke bahasa Arab. Dan juga pada saat itu para ilmuwan muslim hanya dianggap sebagai penerjemah dari pemikiran Yunani dan pemikiran ulama islam dianggap tidak orisinal sehingga ilmuwan barat tidak mencantumkan kontribusi ulama islam tetapi langsung merujuk pada pemikiran Yunani.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS TRANSAKSI YANG DILARANG DALAM ISLAM