FILOSOFI ILMU DAN PERANANNYA DALAM EKONOMI ISLAM
Filosofi Ilmu Pengetahuan
Ilmu pada
hakikatnya merupakan apa yang dipelajari, bagaimana mempelajarinya dan apa manfaat
dari ilmu tersebut. Sedangkan pengetahuan merupakan hasil proses pengindraan
terhadap suatu objek tertentu, yang tidak sistematis, objektif dan tidak
universal, karena tidak memerlukan pembuktian atau pengujian yang ketat. Pengetahuan muncul dari setiap keingintahuan manusia.
Filsafat ilmu
adalah bagian dari ilmu filsafat yang mengkaji tentang hakikat ilmu pengetahuan,
cara kerja ilmu pengetahuan dan dari logika-lah pengetahuan ilmiah tersebut
dibangun. Filsafat ilmu dapat dipahami dari dua sisi,
yaitu filsafat ilmu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis
pengembangan ilmu pengetahuan yang mendasari proses pembangunan keilmuan.
1. Filsafat Ilmu
sebagai Disiplin Ilmu
Di sini filsafat ilmu dilihat secara teoritis,
maksudnya
adalah untuk menjelaskan “apa”, “bagaimana” dan “untuk apa” ilmu pengetahuan itu. Tiga pertanyaan ini sering disebut ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu pengetahuan.
Aspek ontologi berkaitan dengan apa
yang dipelajari. Persoalan utama pada aspek ontologi ilmu adalah struktur utama mengapa sesuatu disebut ilmu dan mengapa
sesuatu disebut ilmiah..
Aspek Epistemologi berkaitan dengan bagaimana
ilmu mempelajari objek studinya menggunakan metode keilmuan atau metode ilmiah.
Epistemologi berbentuk pemikiran-pemikiran yang berasal dari
mazhab-mazhab besar pemikiran. Epistemologi memiliki dua elemen penting:
a.
Struktur nalar yang merupakan unsur pokok dari
aliran pemikiran yang membedakannya dengan aliran pemikiran yang lain,
b.
Proses pembentukan nalar, yaitu aspek histori
dari epistemologi itu.
Aspek Aksiologi berkaitan dengan untuk apa suatu ilmu itu. Ilmu dapat bersifat positif dan normatif. Ilmu bersifat positif, ditinjau dari fungsinya sebagai alat untuk mendeskripsikan,
menjelaskan, dan memprediksi berbagai gejala objek yang diteliti. Ilmu bersifat normatif karena fungsi ilmu adalah mengendalikan berbagai
gejala objek penelitian ke arah yang diinginkan.
2. Filsafat Ilmu
sebagai Landasan Filosofis bagi Ilmu Pengetahuan
Sebagai landasan filosofis perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat
ilmu memiliki fungsi memberikan kerangka, memberikan arahan dan menentukan
hakikat ilmu yang dihasilkan. Landasan filosofis yang dibahas adalah kerangka
teori, paradigma ilmiah dan asumsi dasar.
a.
Kerangka Teori.
Teori dapat berwujud skema, bagan, concept map, mind mapping, dan
semacamnya, yang sebenarnya merupakan susunan logika.
b.
Paradigma Ilmiah
Paradigma
ilmiah adalah seperangkat cara berpikir yang memungkinkan para ilmuwan untuk
bekerja secara lebih mudah dan otomatis, karena sebuah paradigma menyediakan kerangka
kerja yang dipertimbangkan ketika pemilihan metodologi, teori, dan analisis.
c.
Asumsi Dasar
Asumsi dasar adalah
seperangkat keyakinan, prinsip hidup, semangat, bahkan keyakinan agama para
ilmuwan yang juga akan mempengaruhi perilaku ilmiah atau kegiatan ilmiah mereka.
Filosofi Ilmu
dan Peranannya dalam Ekonomi Islam
Hubngan
antara agama dan ilmu
dapat dipelajari dengan melihat hubungan antara wahyu dan akal. Wahyu membimbing manusia untuk memahami semua tujuan hidup, tanggung jawab dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Akal dan wahyu saling melengkapi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia dan seluruh kehidupan.
Oleh karena itu, ekonomi Islam bukanlah aliran lain dari ekonomi konvensional, Ekonomi Islam
berasal dari filosifinya sendiri. Ekonomi Islam dibangun diatas landasan
ilmiah yang kokoh. Ekonomi Islam memiliki struktur keilmuan yang utuh, yaitu
memiliki landasan filosofis, landasan mikro, dan landasan keilmuan paradigma hukum Islam sendiri
Menurut
Muhammad Arif Zakaullah, seperti sistem
ekonomi lainnya, sistem Islam juga berakar pada landasan filosofis tertentu, seperti:
1.
Tauhid: Kesatuan dan kedaulatan Allah SWT.;
2.
Rububiyyah: Pengaturan Ilahi untuk memberi
makan dan mengarahkan hal-hal menuju kesempurnaannya;
3.
Khilafah: Peran manusia sebagai wakil Allah
SWT. di muka bumi;
4.
Takziyah: Pemurnian ditambah pertumbuhan;
5.
Pertanggungjawaban di hari pembalasan dan
implikasinya bagi kehidupan di dunia dan akhirat.
Makna tujuan pendidikan Islam adalah bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkualitas dalam bidang ilmunya dan yang paling mendasar adalah senantiasa berpedoman pada nilai-nilai moral dan agama.
Ide islamisasi
ilmu ini dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi dan Muhammad Naquib al-Attas. Islamisasi pengetahuan mengacu pada pengislaman atau
melakukan penyucian terhadap ilmu produk Barat yang selama ini dikembangkan dan
dijadikan acuan dalam wacana pengembangan sistem pendidikan Islam untuk memperoleh
ilmu “khas islami”.
Untuk mencapai islamisasi sains, terdapat dua proses yang saling terkait yang perlu dilibatkan. Yang pertama adalah proses pemisahan elemen dan konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat. Kedua, mengintegrasikan unsur-unsur Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap
cabang ilmu pengetahuan kontemporer yang relevan.
Lalu
pertanyaannya, mengapa
dilakukan islamisasi pada ilmu ekonomi?
Basis ekonomi konvensional secara tidak langsung
terbentuk dari budaya Barat yang kental terhadap sekularisme dan hal tersebut tidak sejalan dengan worldview Islam.
Proses
islamisasi ilmu ekonomi hanyalah proses transformasi pengetahuan sesuai dengan nilai-nilai dan warisan
Islam.
Komentar
Posting Komentar